jump to navigation

4.6 si dunia (dunia mengotori jiwaku) November 6, 2008

Posted by abuabubakr in 4. s i d u n i a.
add a comment
Sesungguhnya salah satu faktor terpenting agar sesuatu kemenangan bisa diraih dan diantara sebab2 diterimanya suatu amal adalah tampilnya hati2 yg tulus. Sementara kebangkitan Islam saat ini justru masih mengalami banyak kekurangan, karena hati2 yg tulus itu raib entah kemana. Padahal di kalangan para pendahulu kita, hati2 yg bersih itu begitu banyak, meskipun tidak dianggap penting untuk dibicarakan oleh lidah orang2 yang selalu mengucapkan kalimat haq.
Itulah hati2 yg tulus, yakni yg tdk pernah melirik dan menginginkan kedudukan duniawi.
Itulah hati2 yg tulus, yg tidak pernah memikirkan posisinya di jalan dakwah.
Itulah hati2 yg tulus yang tidak pernah mengenal istirahat, bosan, dan keluh kesah bahkan senantiasa berdoa setiap kali terlibat dalam pekerjaan2 dakwah: “Ya Allah sibukkanlah kami untuk mengurusi kebenaran, dan jangan sibukkan kammi denagn kebatilan.”
Itulah hati2 yg tulus yang tidak mengenal batas waktu untuk bekerja demi dakwah dan tidak mengenal ujung untuk beristirahat.
Itulah hati2 yg tulus yang tidak pernah bekerja karena Fulan atau untuk memperoleh sesuatu harta duniawi. Tetapi mereka bekerja hanya untuk memperoleh ridho Allah semata.
Itulah hati2 yg tulus yang tampil ke depan di saat orang2 lain enggan, menunjukan keteguhan di saat orang2 lain terpeleset, tetap sabar di saat orang2 lain mengeluh dan bersikap bijak di saat orang2 lain bertindak bodoh dan tetap mengampuni di kala hak2nya dipecundangi orang.
Itulah hati2 yang tulus, yg di dalamnya tidak terdapat sedikit pun kedengkian terhadap sesama muslim.
Itulah hati2 yg tulus yg tidak pernah mengenal balas dendam dalam dirinya.
Dan itulah hati2 yg tulus yang tidak pernah bisa tidur kaerena ikut menderita atas apa2 yang menimpa Islam.
Sayyid Quthb berkata:
Al Quran telah menciptakan hati2 yg siap memikul amanat. Hati2 ini mesti teguh dan kuat, sehingga tidak menginginkan apapun di muka bumi ini, tetapi sanggup memberikan segenap apapun dan menanggung segala apapun. Yaitu, hati2 yg hanya memandang ke akhirat dan tidak mengharap apapun kecuali ridho Allah…”

Ya apabila be
nar2 ada hati2 seperti ini, yang pasti diketahui Allah kejujuran niatnya, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam janji mereka, maka niscaya Allah memberikan pertolongan kepada mereka di muka bumi dan memberi mereka kepercayaan untuk mengemban amanah itu. Karena, hanya hati-hati seperti itulah yang siap menunaikan amanat tersebut sejak adanya amanat itu sendiri. Yaitu hati-hati yang tidak pernah menuntut suatu keuntungan duniawi yang dijanjikan, dan tidak pernah melirik suatu keuntungan apapun di muka bumi yang hendak diberikan kepadanya. Ya, itulah hati2 yang benar2 tulus kepada Alah. Kapan saja, mereka tidak mengenal balasan apapun bagi amanat yang diembannya, selain ridho-Nya.

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan- Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS At-Taubah : 105)

4.5 si dunia (takut dan sedih) October 8, 2008

Posted by abuabubakr in 4. s i d u n i a.
1 comment so far

Manusia menderita dua penyakit kronik, iaitu takut dan sedih. Jika engkau selidiki setiap penyakit yang ditemui di atas muka bumi ini, engkau akan dapati semuanya mendasar dari dua penyakit ini, iaitu taku dan sedih. Dua penyakit inilah puncanya. Punca segala penyakit. Saya tidak maksudkan penyakit fizikal. Tetapi yang saya maksudkan adalah semua penyakit rohani, penyakit hati, kekerasan jiwa, penyakit-penyakit masyakarat yang menghuru-harakan kehidupan manusia. Ia malah lebih teruk lagi daripada penyakit fizikal. Malah sesetengah penyakit fizikal itupon mendasar dari dua penyakit ini. Takut. Takut kepada perkara yang belum berlaku. Sedih pada perkara yang telah berlalu. Lihat sahaja di Jepun, ramai yang menghidap penyakit berkaitan jantung, darah tinggi akibat tekanan kerja. Semuanya ini berpunca takutkan masa depan, takutkan kemiskinan, takut dibuang kerja dsb. Sedih pula sering membawa kepada putus harap, gila dsb.

 

Manusia jadi bingung disebabkan dua perkara ini. Takut kalau-kalau masa depannya tak terjamin, takut miskin, takut kalau-kalau tidak mempunyai kerja, takut kalau-kalau tidak (atau lambat) berkahwin, takut memiliki anak kerana memikirkan tanggungan itu, kalau-kalau ia akan membebankan, kalau-kalau ia akan membawa sial. Takut menukar kehidupan daripada jahiliyyah yang sempit kepada dunia kebenaran yang luas dan lapang. Walaupon setelah jelas kebenaran itu datang kepadanya.

 

Setelah memiliki kerja, takut pula dibuang kerja. Setelah mendapat biasiswa, takut pula ditarik biasiswanya, setelah berkuasa takut pula hilang kuasa. Begitulah seadanya manusia, setelah takutkan itu, takutkan ini pula. Sehingga takut itu membesar dalam pemikiran mereka, dan menjadi satu dasar pendirian dalam hidup mereka. Hidup berlandaskan rasa takut. Takut diperkatakan orang, takut itu dan ini. Sehingalah takut itu sendiri memotivasikan diri mereka, untuk menghilangkan rasa takut itu dengan cara dan sangkaan mereka. Lakukanlah apa sahaja asalakan kau dapat kerja, asalakan kau tak hilang kuasamu, asalkan kau punyai life, asalkan kau tidak diperkatakan orang.

 

Manusia itu dilahirkan dengan perasaan takut, tetapi bukan itu tempatnya..

 

Sedih. Sedih pada perkara silam. Sedih kerana perkara yang ditakutkan tadi itu banar-benar terjadi. Sesungguhnya ia pasti akan terjadi samada kau takutkan ia atau atau kau sedihkannya. Sesungguhnya pena telah terangkat dan dakwat telah pon kering (hadith ke-19 daripada hadith 40).

 

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (di luh mahfuz) sebelum kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. (al-Hadid, 57 : 22)

 

Sedih pada kehilangan, sedih kerana tertinggal keretapi, tidak lulus perperiksaan, putus cinta, kehilangan harta, kehilangan kuasa dan sebagainya. Seolah-olah ia berada di penghujung dunia. Seolah-olah dunia akan kiamat dengan kehilangan itu. Sehingga sedih itu mempermain-mainkannya, sehingga sedih itu sentiasa berlegar di kotak fikirannya. Sehingga tidak boleh ia menerima sesuatu perkara yang telah berlaku itu. Seakan-akan perkara yang berlalu itu boleh kembali dan diperbetulkan. Sedangkan apa-apa yang hilang dari dirimu itu urusan Tuhanmu.

 

Tidak sedar olehnya itulah qadar (ketentuan) Allah. Itulah kehendak Allah. Itulah sususan yang disusun Sang Pencipta yang berkehendak.

 

Meskipun demikian …

 

Diantara manusia ada yang berhasil mengeluarkan diri daripada dua penyakit ini. Hidupnya tenteram dan setiap langkahnya damai. Ketakutannya adalah pada hari akhirat dan kemurkaan Allah, kesedihannya adalah pada setiap dosa dalam muhasabah amal memperbaiki diri saban hari. Semuanya itu diberi pahala (insyaAllah) dalam menuju Tuhannya. Dan hidupnya gembira dengan harapan serta janji dari Allah dan rasulNya. Mereka itulah yang sering disebut berulang-ulang kali di dalam al-Quran, “tiada ketakutan ke atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”.

 

Mereka itu diri yang sedar tugas mereka sebagai khalifah di muka bumi ini, sepertimana dibebankan ke atas bapa dan ibu mereka (Adam dan Hawa). Dan mengikuti dengan bersungguh-sungguh petunjuk Allah, setelah ia datang kepadanya (tddr 2 : 38)

 

Mereka itu diri dari setiap golongan, tidak kira bangsa dan keturunan, yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, serta mengerjakan kebajikan.. beriman dan bekerja. Mereka mendapat pahala dari Tuhan mereka, Allah tiada Tuhan melainkan Dia. (tddr 2 : 62)

 

Mereka itu diri yang tiada lain bagi mereka di dunia ini. Tiadalah bagi mereka sebarang kepentingan. Diri yang menyerahkan bulat-bulat dirinya kepada Allah, dan berbuat baik. Diri yang menurut apa sahaja arahan dari Tuhannya yang disampaikan melalui nabi saw. (tddr 2 : 112)

 

Diantara mereka ada yang dikurniakan Allah dengan harta. Dan mereka menginfakkan harta mereka di Jalan Allah. Dengan ikhlas. Tidak pula mereka iringi dengan menyebut-nyebutnya, atau dengan sebarang perkataan yang menyakitkan hati (si penerima). (tddr 2 : 262)

 

Mereka itu diri yang menginfakkan harta secara sembunyi di malam dan siang hari. Biarlah, ia menjadi rahsia diantara dia dan Tuhannya. Biarlah hanya Allah dan dirinya sahaja yang mengetahuinya. Ia menjadi rahsia buat tanoshimi yang akan dibongkarkan pada hari pengadilan kelak. Ada juga diantara mereka yang menginfakkannya di siang dan malam hari secara terang-terangan, tetapi Allah mengetahui, hati mereka ikhlas, niat mereka supaya sunnah itu dapat diikuti orang ramai yang melihatnya. Mereka juga mendapat pahala dari sisi Tuhan meraka (tddr 2 : 274)

 

Meraka itu diri yang beriman kepada setiap yang diturun dan ditetapkan oleh Allah, walaupon perkara itu tidak logik dek akal, dan menjadi sesuatu yang bertentangan dengan amalan masyarakatnya. Namun mereka tetap mengerjakan perkara yang ditakrifkan sebagai ‘kebajikan’ oleh Tuhan itu, kerana Dialah pencipta dan penjaga seluruh alam ini. Kerana Dia sahajalah yang mengetahui seluruh rahsia dan hikmahnya. Diri yang hina ini cukup dengan hanya mengimani, walaupon nampak jelek di mata manusia lain. Mereka melaksanakan solat mendekatkan diri kepada Tuhan yang mereka imani, menunaikan zakat membersihkan harta mereka. Dan mereka juga turut mendapat pahala dari sisi Tuhan mereka. (tddr 2 : 277)

 

Mereka itu para pejuang jihad. Singa-singa Allah yang menjaga agama demi Tuhannya. Diantara mereka ada yang berhasil dianugerahkan bintang ‘syahid’, yang lainnya masih setia menunggu-nunggu anugerah itu. (tddr 3 : 170)

 

Mereka itu yang beriman dan bekerja dengan amal soleh. Tidak kira dari mana asal usul mereka, tidak kira apa jua latar belakang mereka. Tinggalkan semua itu, teruslah mereka menuju kepada iman dan amal soleh. (tddr 5 : 69)

 

Tidak cukup dengan itu, mereka adalah golongan yang beriman dengan para utusan dari langit. Setiap berita yang mereka kabarkan. Biarpun orang lain mendustakannya. Mereka tetap membenarkan. Itu berita gembira, mahupon amaran dari langit. Itulah iman. Yang mendasar dalam hati mereka. Mereka sedar, setiap yang batil di dunia ini harus diperbaiki, syariat perlu ditegakkan, dan mereka berada dalam golongan yang bekerja untuk tujuan itu. (tddr 6 : 48)

 

Sekali lagi Allah meneggaskan, mereka itu beriman dengan berita-berita dari langit. Dan mengadakan islah memperbaiki isi dunia ini. Mengembalikan ruh dan hak dunia ini seperti yang sebetulnya. (tddr 7 :35 )

 

Mereka itu para wali. Yang sentiasa merasakan kebersamaan Tuhan mereka. Maka apa lagi yang mereka takuti? segala kuasa terasa kecil bagi mereka, kerana yakin Allah bersama mereka. (tddr 10 : 61)

 

Maka Allah beri jaminan kepada mereka, dan tiadalah ketakutan ke atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.

 

waAllahua’alam

 

notes : tddr = tadabbur dari ayat

4.4 si dunia (selamat jalan balik kampong) August 5, 2008

Posted by abuabubakr in 4. s i d u n i a.
add a comment

Bismillahi rahmaani rahiim. Saya mulakan dengan potongan ayat dari surah al-A’araaf 7 : 168-170

 

(168) Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (169) Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (170) Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.

 

Beberapa penerangan yang cuba saya buka rujukannya dari serpihan-serpihan ulasan pakcik Syed Qutb (rahimallah), saya ketengahkan dalam tulisan ini (yang saya ringkaskan menurut maksud yang ingin saya lontarkan). Ianya adalah di bawah bab ujian dengan kebaikan dan keburukan. Katanya;

 

Maka diantara orang-orang yahudi setelah zaman nabi Musa ‘alaihissalam (insyaAllah relevannya adalah kepada kita, orang islam pada zaman ini) ada orang-orang yang saleh, dan ada pula yang tidak saleh. Perhatian Ilahi selalu mengiri mereka dengan ujian-ujian. Sekali tempo dengan kesenangan-kesenangan. Dan sekali tempo dengan kesusahan-kesusahan. Supaya mereka kembali ke jalan Tuhannya, kembali kepada kebenaran dan istiqamah di jalan yang lurus.

 

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)

 

Pengiringan siri-siri ujian itu merupakan rahmat dari Allah kepada hamba-hambaNya, merupakan ‘alarm’ yang terus-menerus ‘snooze’nya kepada mereka, untuk menjaga mereka dari kelalaian yang dapat menghantar dan menghanyutkan mereka ke dalam keteperdayaan dan kebinasaan.

 

……

 

Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?

 

Ya, itulah negeri akhirat! Sesungguhnya timbangan dalam hati orang-orang yang bertaqwa itulah yang menjadikan berat daun timbangannya. Itu sahajalah yang dapat memelihara manusia dari fitnah (cubaan, ujian) kekayaan yang rendah nilainya dan cuma sebentar sahaja di dunia ini. Ya, pertimbangan akhirat inilah yang akan menjadikan baiknya hati dan (manfaatnya) kehidupan. Dengan memerhatikannya, jiwa dan kehidupan manusia menjadi lurus.

 

Itulah saudara-saudara, seputar ringkas kisah kehidupan dunia yang kecil dan sempit, yang penuh dengan ujian dan cubaan, yang dihiasi dengan indah oleh syaitan musuh manusia yang sudah nyata. Dunia yang sentiasa menggiurkan, sentiasa indah dan mempersona. Tetapi palsu dan memperdaya.

 

Itulah pula, kampong akhirat yang sentiasa pula dirasakan jauh dari realiti dan panjang penentiannya. Tidak Nampak di depan mata. Tetapi benar dan kekal, luas dan mendamaikan, dipenuhi keampuanan dari Tuhan dan nikmat-nikmat yang terus-terus menerus. Terus menerus sehingga tiadalah penghujungnya. Betapa indahnya.

 

waAllahua’alam …

4.3 si dunia (jgn jeles ye) August 3, 2008

Posted by abuabubakr in 4. s i d u n i a.
add a comment

Sifat cemburu mempunyai sejarahnya yang sangat panjang dalam perjalanan hidup manusia di atas muka bumi. Dan sejarahnya amat hitam, hitam lagi mengerikan. Saya tak pastilah, tapi setakat pengetahuan saya ia bermula dari kisah sons of adam, di mana dalam sebuah hadith disebutkan awwal, yang bererti anak-anak adam generasi awal. Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Kathir (rahimahullah), di dalam kisah-kisah israiliat (Israelite), nama mereka disebut sebagai habil dan qabil. Kisah ini, walaupun tidak didetailkan nama mereka di dalam alQuran mahupun hadith sohih, dirakamkan di dalam surah al-Maaidah 5 : 27-31

27. Recite to them the truth of the story of the two sons of Adam. Behold! they each presented a sacrifice (to Allah). It was accepted from one, but not from the other. Said the latter: “I will sure to kill you.” “Surely,” said the former, “(Allah) accept only from al-muttaqiin (those who are righteous).

28. “If you stretch your hand against me, to kill me, I will not stretch my hand against you to kill you: for I do fear Allah, the lord of the worlds.

29. “For me, I intend to let you draw on yourself my sin as well as yours, for you will be among the companions of the hellfire, and that is the reward of those who do wrong.”

30. The (selfish) soul of the other led him to the murder of his brother: he murdered him, and became (himself) one of the losers.

31. Then Allah sent a raven, who scratched the ground, to show him how to hide the shame of his brother. “Woe is me!” said he; “Was I not even able to be as this raven, and to hide the body of my brother?” then he became full of regrets-

Kisah ini amat melekat di hati saya, seakan-akan terngiang-ngiang ditelinga saya saban hari. Aduhai perasaan cemburu ini, membawa kepada satu pembunuhan yang amat mengerikan, tidak pernah terbayang dek akal ketika itu.

Sedangkan cemburunya, mahupun pembunuhannya tidak pula akan membawa kepada penerimaan qurban-nya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Begitulah seadanya kita, begitulah seadanya manusia, sentiasa cemburu terhadap orang lain. Cemburu orang lain lebih baik, sedangkan tidak kita memperbaiki diri, cemburu orang lain lebih berusaha menuju Allah, sedangkan tidak kita berusaha sedikit demi sedikit menuju Allah.

Allah al-‘aliimul hakim. Yang sangat mengetahui dan sangat bijaksana, tahu apa yang paling baik dan paling sesuai untuk kita.

Begitulah seadanya kita, begitulah seadanya manusia, cemburu terhadap apa yang diperolehi orang lain, baik harta, fizikal yang cantik, kedudukan, anak-anak dan apa jua. Allah rabbul ‘alamiin (Tuhan seluruh alam ini) mengatakan ‘jangan’ kepada kita untuk cemburu terhadap permberianNya kepada orang lain. an-Nisa’ 4 : 32.

32. Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikurniakan Allah kepada sebahagian kamu, lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Kerana) bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari kurnia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

My teacher once said …

Here is a very beautiful ending of this verse

‘… dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’

Di mana Allah (yang maha pemurah, yang maha memakbulkan doa, maha mulia (baik hati) ) tidak mengakhirinya dengan ‘mintalah kepada Allah, nescaya Allah akan beri pula kepada kamu’ tetapi Allah mengakhirinya dengan ‘Allah maha tahu segala sesuatu’. Ini membayangkan kepada kita, sesuatu pemberian yang Allah kurniakan kepada kita adalah sangat bersesuaian, sangat tepat, dan sangat cocok, kepada kita. Dan yang dikurniakanNya kepada orang lain itu, adalah sangat sesuai dengan mereka.

Di dalam surah Taha 20 : 131, sekali lagi Allah mengulangi peringatan ini,

131. Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia. Agar Kami uji mereka dengannya. Dan kurnia (dari) Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.

Kereta besar, rumah cantik, kekayaan, pangkat, kebolehan yang kita cemburui itu adalah pemberian dari Allah kepada mereka sebagai ujian untuk mereka. Sebagai ujian. Tidak lain hanyalah sebagia ujian. Masing-masing mempunyai ‘kertas ujian’ masing-masing. Untuk Allah nilai pada hari pembalasan nanti, yang sangat dekat. Sangat dekat. Mencemburuinya, adalah seakan-akan kita menginginkan ujian yang Allah berikan kepada mereka, sedang kertas ujian kita tidak terjawab (dan mungkin menunggu markah kosong dari Tuhan).

Dalam sebuah hadith sohih, yang dirakamkan oleh imam muslim. Rasulullah sallaAllahu ‘alaihi wassalam bersabda.

My teacher once said …

I wish my heart could apply this

IMAM MUSLIM Book 042, Number 7070:

Abu Huraira reported Allah’s Messenger (may peace be upon him) as saying: Look at those who stand at a lower level than you but don’t look at those who stand at a higher level than you, for this would make the favours (conferred upon you by Allah) insignificant (in your eyes). Abu Mu’awiya said: Upon you.

Sentiasa melihat ‘orang di bawah’ kita. Orang yang berjalan dengan sebelah kaki, orang yang Cuma makan sehari sekali, orang yang tiada rumah yang sempurna, orang yang tidak ada pendidikan, tidak mempunyai kerja, dan banyak lagi yang kita ini lebih ‘bernasib baik’ dari mereka.

MasyaAllah. Islam ini cukup indah.

4.2 si dunia (no.1 no.2) July 14, 2008

Posted by abuabubakr in 4. s i d u n i a.
1 comment so far

Duniaaaa dunia.. ishk si kecik ni…

Islam tidak pernah melarang untuk mengambil kehidupan dunia, malah Allah telah menyuruh kita untuk tidak melupakannya.

Kan ade ayat yang kate carilah akhirat .. tapi jangan lupe bahagian kamu di dunia .. (baiknye Allah)

C u m a n y a kita perlu jelas satu perkara .. satu perkareee je.

“Akhirat no. 1, dunia no. 2”

Dalam surah huud (11)

15. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Waaaaaaaa best nye .. sekali imbas dengar ayat ni macam sangat best ..

Tetapi

Allah menyambungnya dengan

16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan

waAllahua’alam

4.1 Bumi, Dunia dan Kehidupan July 3, 2008

Posted by abuabubakr in 4. s i d u n i a.
add a comment

Di dalam an-Naazi’aat 79 : 37-39

Adapun orang yang melampaui batas (thogho), dan mengutamakan kehidupan dunia. S e s u n g g u h n y a nerakalah tempat tinggalnya

Kadang-kadang Allah menggunakan perkataan “hom” iaitu mereka. Contohnya dalam surah Muhammad 47 : 12

“Dan nerakalah tempat tinggal mereka”

Tapi di sini (an-Nazi’aat) Allah menyatakan, s e s u n g g u h n y a nerakalah tempat tinggal n y a. yang dapat saya (secara peribadi) tergambar kesepian dan keseorangan seorang penghuni, yang dahulunya telah melampaui batasan dan mengutamakan kehidupan dunia. waAllahua’alam.

Kalimah “thogho” disingkap oleh pakcik syed qutb dengan memberi makna setiap orang yang menentang hidayah dan mengutamankan hidup dunia tanpa memperhitungkan akhirat, sedangkan pada hari akhirat itulah yang boleh membetulkan segala neraca pertimbangan di tangan dan di hati manusia. … Apabila seseorang itu mengabaikan h i s a b a k h i r a t dan mengutamakan h i d u p d u n i a maka pertimbangannya akan meleset, segala neraca dan segala penilaiannya salah dan segala lunas perasaan dan prilakunya akan menyeleweng, dan ia akan menjadi manusia pelampau dan pelanggar batas.

Kata seorang ustat, thogho lebih teruk daripada zulum (zalim). Dikuatkan lagi dengan penerangan oleh pakcik syed qutb “pengertianya lebih luas daripada pemerintah yang zalim dan kejam”

Apa yang menarik tumpuan saya adalah kenikmatan dunia, yang membesar, melebar dan menjalar ke seluruh benak pemikiran manusia. Samada ia dibesar-besarkan oleh persekitaran atau ia didorong hawa nafsu dan syaiton. Sehingga mengecillah sebesar sebutir beras (atau lebih kecil lagi daripada itu) sebuah kehidupan yang tiada penghabisan, sebuah kenikmatan yang tiada tandingan, sebuah mahligai ketenangan yang tiada kekusutan, sebuah taman dialiri di bawahnya sungai penuh kedamaian, sebuah kepuasan yang tiada penghujung, sebuah kampong halaman yang amat dirindui, yang semakin hari semakin tidak difikirkan, dek kerana manusia seolah-olah mahu hidup selama-lamanya pada kehidupan ini, kehidupan yang sempit dan melarat, kehidupan yang terhimpit dan tertekan, kehidupan yang huru-hara, penjara yang penuh pergaduhan, hidup yang diisi macam-macam kedengkian, kehidupan t a t e m a e (bermuka-muka), kehidupan yang penuh kepalsuan, pondok usang yang tunggu masa robohnya, yang dihiasi dedaun kering, yang tampak indah di mata manusia. Ya Allah, lindungilah kami dan keluarga kami daripadanya. Amin ya Rabb, Tuhan alam ini.

Ya Allah, lindungi kami.

Ya Allah, saya amat memerlukan a p a – a p a s a h a j a dari kebaikan yang Tuanku turunkan. (al-Qasos 28 : 24)

Amin