jump to navigation

4.4 si dunia (selamat jalan balik kampong) August 5, 2008

Posted by abuabubakr in 4. s i d u n i a.
add a comment

Bismillahi rahmaani rahiim. Saya mulakan dengan potongan ayat dari surah al-A’araaf 7 : 168-170

 

(168) Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (169) Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (170) Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.

 

Beberapa penerangan yang cuba saya buka rujukannya dari serpihan-serpihan ulasan pakcik Syed Qutb (rahimallah), saya ketengahkan dalam tulisan ini (yang saya ringkaskan menurut maksud yang ingin saya lontarkan). Ianya adalah di bawah bab ujian dengan kebaikan dan keburukan. Katanya;

 

Maka diantara orang-orang yahudi setelah zaman nabi Musa ‘alaihissalam (insyaAllah relevannya adalah kepada kita, orang islam pada zaman ini) ada orang-orang yang saleh, dan ada pula yang tidak saleh. Perhatian Ilahi selalu mengiri mereka dengan ujian-ujian. Sekali tempo dengan kesenangan-kesenangan. Dan sekali tempo dengan kesusahan-kesusahan. Supaya mereka kembali ke jalan Tuhannya, kembali kepada kebenaran dan istiqamah di jalan yang lurus.

 

Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)

 

Pengiringan siri-siri ujian itu merupakan rahmat dari Allah kepada hamba-hambaNya, merupakan ‘alarm’ yang terus-menerus ‘snooze’nya kepada mereka, untuk menjaga mereka dari kelalaian yang dapat menghantar dan menghanyutkan mereka ke dalam keteperdayaan dan kebinasaan.

 

……

 

Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?

 

Ya, itulah negeri akhirat! Sesungguhnya timbangan dalam hati orang-orang yang bertaqwa itulah yang menjadikan berat daun timbangannya. Itu sahajalah yang dapat memelihara manusia dari fitnah (cubaan, ujian) kekayaan yang rendah nilainya dan cuma sebentar sahaja di dunia ini. Ya, pertimbangan akhirat inilah yang akan menjadikan baiknya hati dan (manfaatnya) kehidupan. Dengan memerhatikannya, jiwa dan kehidupan manusia menjadi lurus.

 

Itulah saudara-saudara, seputar ringkas kisah kehidupan dunia yang kecil dan sempit, yang penuh dengan ujian dan cubaan, yang dihiasi dengan indah oleh syaitan musuh manusia yang sudah nyata. Dunia yang sentiasa menggiurkan, sentiasa indah dan mempersona. Tetapi palsu dan memperdaya.

 

Itulah pula, kampong akhirat yang sentiasa pula dirasakan jauh dari realiti dan panjang penentiannya. Tidak Nampak di depan mata. Tetapi benar dan kekal, luas dan mendamaikan, dipenuhi keampuanan dari Tuhan dan nikmat-nikmat yang terus-terus menerus. Terus menerus sehingga tiadalah penghujungnya. Betapa indahnya.

 

waAllahua’alam …

4.3 si dunia (jgn jeles ye) August 3, 2008

Posted by abuabubakr in 4. s i d u n i a.
add a comment

Sifat cemburu mempunyai sejarahnya yang sangat panjang dalam perjalanan hidup manusia di atas muka bumi. Dan sejarahnya amat hitam, hitam lagi mengerikan. Saya tak pastilah, tapi setakat pengetahuan saya ia bermula dari kisah sons of adam, di mana dalam sebuah hadith disebutkan awwal, yang bererti anak-anak adam generasi awal. Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Kathir (rahimahullah), di dalam kisah-kisah israiliat (Israelite), nama mereka disebut sebagai habil dan qabil. Kisah ini, walaupun tidak didetailkan nama mereka di dalam alQuran mahupun hadith sohih, dirakamkan di dalam surah al-Maaidah 5 : 27-31

27. Recite to them the truth of the story of the two sons of Adam. Behold! they each presented a sacrifice (to Allah). It was accepted from one, but not from the other. Said the latter: “I will sure to kill you.” “Surely,” said the former, “(Allah) accept only from al-muttaqiin (those who are righteous).

28. “If you stretch your hand against me, to kill me, I will not stretch my hand against you to kill you: for I do fear Allah, the lord of the worlds.

29. “For me, I intend to let you draw on yourself my sin as well as yours, for you will be among the companions of the hellfire, and that is the reward of those who do wrong.”

30. The (selfish) soul of the other led him to the murder of his brother: he murdered him, and became (himself) one of the losers.

31. Then Allah sent a raven, who scratched the ground, to show him how to hide the shame of his brother. “Woe is me!” said he; “Was I not even able to be as this raven, and to hide the body of my brother?” then he became full of regrets-

Kisah ini amat melekat di hati saya, seakan-akan terngiang-ngiang ditelinga saya saban hari. Aduhai perasaan cemburu ini, membawa kepada satu pembunuhan yang amat mengerikan, tidak pernah terbayang dek akal ketika itu.

Sedangkan cemburunya, mahupun pembunuhannya tidak pula akan membawa kepada penerimaan qurban-nya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Begitulah seadanya kita, begitulah seadanya manusia, sentiasa cemburu terhadap orang lain. Cemburu orang lain lebih baik, sedangkan tidak kita memperbaiki diri, cemburu orang lain lebih berusaha menuju Allah, sedangkan tidak kita berusaha sedikit demi sedikit menuju Allah.

Allah al-‘aliimul hakim. Yang sangat mengetahui dan sangat bijaksana, tahu apa yang paling baik dan paling sesuai untuk kita.

Begitulah seadanya kita, begitulah seadanya manusia, cemburu terhadap apa yang diperolehi orang lain, baik harta, fizikal yang cantik, kedudukan, anak-anak dan apa jua. Allah rabbul ‘alamiin (Tuhan seluruh alam ini) mengatakan ‘jangan’ kepada kita untuk cemburu terhadap permberianNya kepada orang lain. an-Nisa’ 4 : 32.

32. Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikurniakan Allah kepada sebahagian kamu, lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Kerana) bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari kurnia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

My teacher once said …

Here is a very beautiful ending of this verse

‘… dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’

Di mana Allah (yang maha pemurah, yang maha memakbulkan doa, maha mulia (baik hati) ) tidak mengakhirinya dengan ‘mintalah kepada Allah, nescaya Allah akan beri pula kepada kamu’ tetapi Allah mengakhirinya dengan ‘Allah maha tahu segala sesuatu’. Ini membayangkan kepada kita, sesuatu pemberian yang Allah kurniakan kepada kita adalah sangat bersesuaian, sangat tepat, dan sangat cocok, kepada kita. Dan yang dikurniakanNya kepada orang lain itu, adalah sangat sesuai dengan mereka.

Di dalam surah Taha 20 : 131, sekali lagi Allah mengulangi peringatan ini,

131. Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia. Agar Kami uji mereka dengannya. Dan kurnia (dari) Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.

Kereta besar, rumah cantik, kekayaan, pangkat, kebolehan yang kita cemburui itu adalah pemberian dari Allah kepada mereka sebagai ujian untuk mereka. Sebagai ujian. Tidak lain hanyalah sebagia ujian. Masing-masing mempunyai ‘kertas ujian’ masing-masing. Untuk Allah nilai pada hari pembalasan nanti, yang sangat dekat. Sangat dekat. Mencemburuinya, adalah seakan-akan kita menginginkan ujian yang Allah berikan kepada mereka, sedang kertas ujian kita tidak terjawab (dan mungkin menunggu markah kosong dari Tuhan).

Dalam sebuah hadith sohih, yang dirakamkan oleh imam muslim. Rasulullah sallaAllahu ‘alaihi wassalam bersabda.

My teacher once said …

I wish my heart could apply this

IMAM MUSLIM Book 042, Number 7070:

Abu Huraira reported Allah’s Messenger (may peace be upon him) as saying: Look at those who stand at a lower level than you but don’t look at those who stand at a higher level than you, for this would make the favours (conferred upon you by Allah) insignificant (in your eyes). Abu Mu’awiya said: Upon you.

Sentiasa melihat ‘orang di bawah’ kita. Orang yang berjalan dengan sebelah kaki, orang yang Cuma makan sehari sekali, orang yang tiada rumah yang sempurna, orang yang tidak ada pendidikan, tidak mempunyai kerja, dan banyak lagi yang kita ini lebih ‘bernasib baik’ dari mereka.

MasyaAllah. Islam ini cukup indah.